Mengaji ke Pengasuh, Poros Pendidikan Sidogiri yang Sakral. Kiai Cholil, Sehari Semalam Mulang 14 Kitab
JUMAT 25 Syawal 1347, Pengasuh PPS KH Nawawie bin Noerhasan wafat. Karena putra-putra Kiai Nawawie masih kecil-kecil, KH Abd. Djalil yang saat itu berada di Makkah diminta kembali ke Sidogiri untuk menjadi pengasuh. Beliau pun datang, tetapi tidak bersedia menjadi pengasuh. Beliau meminta KH Abd. Adzim bin Oerip (juga menantu Kiai Nawawie) untuk menjadi pengasuh. Namun beliau juga keberatan. Akhirnya, Kiai Abd. Djalil menjadi pengasuh menggantikan mertuanya.
Dalam hal mulang santri, beliau meneruskan apa yang telah dilakukan oleh Kiai Nawawie. Beliau mengaktifkan pengajian sebagaimana yang dilakukan mertuanya. Kiai Djalil juga menghatamkan kitab tafsir tiap bulan Ramadan. Sehingga ada yang mengatakan, “Masa Kiai Abd. Djalil tak ubahnya adalah masa Kiai Nawawie.”
Hanya kemudian, pada masa kepengasuhan Kiai Djalil, jumlah santri membludak. Hingga ada yang mengusulkan untuk mendirikan madrasah. Kiai Djalil awalnya tidak setuju karena khawatir sisa-sisa kapur tulis yang dibuat menulis al-Qur’an terinjak oleh santri. Namun karena santri semakin banyak dan tidak memungkinkan ikut mengaji, akhirnya beliau setuju dengan tetap mewanti-wanti santri agar berhati-hati, sebisanya sisa-sisa tulisan al-Qur’an tidak sampai diinjak oleh mereka.
Didirikanlah madrasah Ibtidaiyah pada 14 Safar 1357 atau 15 April 1938, yang kemudian dilanjutkan oleh madrasah Tsanawiyah pada bulan Dzul Hijah 1378 atau Juli 1957 dan madrasah Aliyah pada 13 Muharam 1403 atau 21 Oktober 1982. Selain latar belakang di atas, berdirinya madrasah ini juga dimaksudkan untuk mempersiapkan kemampuan ilmu agama para santri sebelum mengaji kepada pengasuh.
Setelah Kiai Djalil syahid di ujung bedil penjajah Belanda, estafet kepengasuhan dilanjutkan oleh KH Abd. Adzim bin Oerip.
Kepada para santri, Kiai Abd. Adzim mengajarkan kitab-kitab tipis seperti Mukhtashar Jiddan, Sullamut-Taufîq, dan al-Hikam. Riwayat lain mengatakan Sullamut-Taufîq, Safînatun-Najâh, dan Bidâyatul-Hidâyah. Tempat beliau mulang adalah Surau Daerah G dan dalemnya. Setiap kali khatam, Kiai Abd. Adzim selalu mengulangi kembali kitab-kitab yang beliau ajarkan dan tidak menggantinya dengan kitab lain. Beliau lebih suka santrinya mengamalkan apa yang beliau ajarkan meskipun sedikit.
Pada masa KH Cholil Nawawie (1949-1977), animo santri PPS dalam mengikuti pengajian kitab kuning ke pengasuh cukup tinggi. Waktu itu, dalam sehari semalam Kiai Cholil mulang sebanyak 14 judul kitab. Dimulai pukul tujuh pagi sampai bakda Isya. Kegiatan pengajian ini hanya diselai istirahat menjelang waktu salat rawatib tiba.
Kitab-kitab yang diajarkan oleh beliau antara lain, Ihyâ’ Ulûmiddîn, Shahîh Bukhârî, Fathul-Wahhâb, Iqnâ’, Syarh Asymûnî, Ibnu ‘Aqîl, Mutammimah, Fathul-Mu‘în, Tafsîr al-Baidhâwî, Tafsîr Jalâlain, dan Uqûdul-Jumân.
Jumlah santri yang ikut pengajian juga cukup banyak. Dari Surau Daerah H tempat Kiai Cholil mulang, santri yang mengaji meluber sampai ke Daerah C yang berjarak sekitar 30 meter. Uniknya, meski pengajian itu tidak memakai pengeras suara, pengajian tetap bisa diikuti dan didengar oleh para santri.
Kiai Cholil istikamah dan nyaris tidak pernah meliburkan kegiatan pengajian. Menurut satu riwayat, apabila beliau merasa letih, beliau mulang dengan cara berdiri. Keistikamahan beliau dalam mengaji setara dengan keistikamahan beliau dalam mengimami jemaah salat rawatib. Saking jarangnya libur, ada syair yang digubah sendiri oleh santri:
عَلَامَةُ الْعُطْلُةِ فِيْ مَعْهَدِنَا * لَمْ يَحْضُرِ الشَّيْخُ اِلَى مَسْجِدِنَا
Tanda libur (pengajian) di pondok kami * adalah tidak hadirnya Kiai ke masjid kami (untuk berjemaah).
Pada bulan Ramadan, Kiai Cholil juga mengadakan pengajian. Pada hari libur ini beliau memulai pengajiannya sejak pukul 7 pagi sampai 5 sore. Tentu, pengajian ini diselai istirahat tiap datangnya waktu salat.[]