23 Februari 2012 | 30 Rabiul Awwal 1433 H
Home Forum Diskusi Link Download Maklumat Kontak
   
       
 
 
   
   
 
ARTIKEL ARTIKEL
Teori Berbisnis Imam al-Ghazali; Meraih Keuntungan Dunia Akhirat

 
Sukses dunia-akhirat, selain merupakan harapan setiap orang, sejatinya juga merupakan ruh ajaran Islam yang mendorong pemeluknya untuk meraih fiddunya hasanah wa fil-akhirati hasanah (kebaikan dunia-akhirat).Islam tidak menyukai pemalas yang enggan berusaha untuk urusan dunianya, terlebih akhiratnya. Imam al-Ghazali dalam kitab Ihyâ’ Ulûmiddîn, memberikan langkah jitu bagi para bisnisman agar meraih keuntungan yang tidak hanya bersifat duniawi tapi juga ukhrawi.
Pertama, seorang bisnisman harus menata niat dan prinsip dalam setiap memulai pekerjaan. Hendaknya, dalam usaha yang digelutinya, diniati menjaga kehormatan dari mengharap pemberian orang lain, niat mendukung kepentingan agama, memenuhi kebutuhan keluarga, sanggup berlaku adil, dan amar makruf nahi mungkar di tempat kerjanya. Dalam Islam, nilai suatu pekerjaan tidak hanya dilihat dari sisi kualitasnya, tetapi juga dari maksud dan tujuannya. Semakin pandai menata niat, semakin banyak pula mendapat keuntungan.
Kedua, Kesibukan di tempat kerja tidak menghalanginya menuju pasar akhirat, yaitu masjid. Dengan demikian, ia termasuk golongan yang disebut dalam al-Qur’an, “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (QS. an-Nur []:37).
Pesan Sayyidina Umar kepada para pedagang, Jadikan awal siangmu untuk akhiratmu dan selanjutnya untuk duniamu”. Para salafus-saleh sangat memperhatikan dalam mengatur waktu. Mereka memiliki jadwal tersendiri untuk ibadah dan waktu bekerja. Biasanya, siang hari mereka gunakan mencari keuntungan dunia, sedangkan pagi dan sore untuk keuntungan akhirat, sebab pagi dan sore adalah waktu berkumpulnya dua malaikat, yakni malaikat yang bertugas di siang hari dan malaikat yang bertugas malam hari, sehingga bila seseorang melakukan aktivitas pada dua waktu ini, maka akan dicatat oleh dua malaikat.
Ketiga, pedagang yang cerdas selalu mengisi waktu kosongnya untuk berzikir, wirid, dan doa. Sayyidina Hasan berkata, “Orang yang berzikir ketika dipasar, maka kelak di hari kiamat ia datang dengan wajah seperti cahaya bulan purnama. Dan, orang yang memohon ampunan saat di pasar, maka Allah mengampuninya dengan ampunan sebanyak penduduk pasar tersebut”. Berzikir ketika di pasar mempunyai keutamaan tersendiri, sehingga tak jarang para ulama dulu pergi ke pasar hanya untuk membaca zikir demi mendapatkan keutamaan tersebut.
Keempat, tidak berlebihan dalam memulai aktivitasnya, sehingga tidak termasuk yang pertama kali masuk ke pasar dan yang paling akhir pulang dari pasar.
Kelima,pedagang tidak hanya menjauhkan diri dari perkara haram, tapi juga harus berhati-hati, agar usahanya bersih dari perkara syubhat. Sebagaimana dalam Hadis, “Setiap daging yang tumbuh dari perkara haram, maka nerakalah tempat yang paling layak baginya”.
Keenam, seorang pedagang harus ekstra hati-hati dalam bertransaksi, dari mana, ke mana dan dengan siapa bertransaksi, sebab semuanya kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Dunia adalah ladang kehidupan akhirat; tempat kembali setiap manusia, dan merupakan kehidupan sejati nan abadi. Maka, mari kita isi hidup ini dengan sebaik mungkin, karena hidup adalah perjuangan, hidup adalah kompetisi siapa yang lengah dia yang kalah.

 
SUMBER: TAUIYAH  PPS
 
SEARCH
 
MEMBER LOGIN
User
Password
 
   
         
                      Copyright © 2007 SMI Indonesia. All Rights Reserved.