23 Februari 2012 | 30 Rabiul Awwal 1433 H
Home Forum Diskusi Link Download Maklumat Kontak
   
       
 
 
   
   
 
ARTIKEL ARTIKEL
Al-Qur’an dan Karakter Jahiliah

Berhentilah berpersepsi tidak tepat tentang bangsa Arab Jahiliah. Bahwa bangsa Arab Jahiliah adalah komunitas masyarakat pagan yang bodohnya minta ampun, dekil, lugu, norak dan kampungan banget. Mereka tidak berpendidikan, tidak berbudaya, tidak berperadaban, barbar, dan seterusnya-dan seterusnya.

Bagaimanapun, ini adalah asumsi yang tidak akurat, sebagai implikasi logis dari stigma “jahil” yang disematkan untuk mereka. Tentu saja tidak ada hal positif apapun dalam stempel “kebodohan” itu. Hanya, marilah kita berpikir tentang pertanyaan berikut: mungkinkah al-Qur’an akan berbicara kepada komunitas yang bodohnya bukan kepalang, sehingga mereka tidak memahami hal apapun dari isi kandungan al-Qur’an? No! Tentu saja tidak.

Tentu saja, al-Qur’an, dengan racikan kata dan kandungan isi yang sempurna, hanya akan dipahami oleh komunitas yang memiliki karakter berbahasa yang kuat, cita rasa tinggi, dan kecerdasan di atas rata-rata. Jika al-Qur’an diturunkan kepada masyarakat yang bodohnya setengah mati, tentu tidak akan terjadi komunikasi yang hidup antara al-Qur’an dengan masyarakat itu.

Namun faktanya, masyarakat Jahiliah reaktif terhadap sindiran dan kecaman al-Qur’an yang menohok, yang membuktikan betapa mereka memahami maksud al-Qur’an sepenuhnya. Jika demikian, masihkah akan ada asumsi jika masyarakat Arab Jahiliah itu bodoh sebodoh-bodohnya, atau bodoh tujuh turunan?

Simaklah apa yang dikatakan Dr. Thaha Husain, seperti dikutip Dr. Abdul Halim Mahmud dalam at-Tafkîr al-Falsafî fil-Islâm:

“Tidaklah mudah untuk memahami bahwa suatu komunitas masyarakat begitu takjub dengan al-Qur’an ketika ayat-ayatnya dibacakan, kecuali jika ada koneksi dan keterhubungan antara al-Qur’an dan masyarakat itu. Keterhubungan ini bisa dijumpai di antara fragmentasi karya-karya sastra yang indah, dan di antara mereka yang terkagum-kagum ketika menyimak dan memikirkan kandungan isinya.”

“Dan tidaklah mudah untuk memahami bahwa masyarakat Arab kala itu telah menyanggah al-Qur’an, menentangnya, dan mendebat Nabi SAW mengenainya, kecuali jika mereka memahami sepenuhnya terhadap kandungan isi dan rahasia-rahasia yang terpendam di dalamnya.”

“Padahal di dalam al-Qur’an terdapat kecaman terhadap kaum Pagan dan keyakinan mereka, kecaman terhadap Yahudi, Kristen, dan Zoroaster. Dan pastinya, al-Qur’an saat itu tidak sedang berbicara kepada komunitas Yahudi di Palestina, Kristen Romawi, Zoroasterian Persia, namun sedang berbicara kepada komunitas Arab yang memperesentasikan keyakinan-keyakinan tersebut secara sempurna.”

Dan, yang perlu diperhatikan, tesis Dr. Thaha Husain ini bukanlah sekadar asumsi tanpa bukti. Al-Jahizh (163 H – 255 H), seorang pemuka sastra Arab, misalnya, menuturkan kepada kita perihal para intelektual Quraisy dalam hal kesempurnaan tutur-kata, tingginya fantasi, dan kejernihan pemikiran mereka, yang disitir dalam sejumlah ayat al-Qur’an. Al-Jahizh juga menuturkan perihal para jenius Quraisy dalam kesempurnaan bahasa dan kepandaian bersilat lidah, seperti dikemukakan dalam al-Qur’an, sebagai berikut:

Dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam...” (QS. Al-Ahzab [33]: 19).

Pernyataakn lugas dari al-Qur’an ini menunjukkan betapa kata-kata orang-orang kafir pada saat itu demikian tajam, setajam silet, menghujam ke lubuk hati Nabi SAW pada saat mereka mencaci beliau. Tentu, hujatan yang menukik seperti itu merupakan buah dari kepandaian mereka dalam meracik kata dan bersilat lidah.

Bahkan lebih dari sekadar itu, al-Qur’an juga menggambarkan betapa kata-kata orang kafir Arab itu begitu memikat, menyihir, dan mampu menarik perhatian siapa saja yang mendengarkannya. Sang pendengar pun menjadi terkagum-kagum karenanya. “Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka.” (QS. Al-Munafiqun [63]: 4). Dan pernyatakaan lugas al-Qur’an yang lain tentang tutur kata mereka: “Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 204).

So, siapapun mesti angkat topi untuk keunggulan masyarakat Jahiliah di bidang ini, karena bagaimanapun, al-Qur’an mengakui keunggulan itu ada pada mereka. Namun, apapun itu, mereka tidak akan mampu untuk menandingi al-Qur’an dalam berbagai aspeknya, karena al-Qur’an bukanlah kata-kata manusia.

Maka, sejak awal dan sampai kapanpun, tantangan al-Qur’an untuk “membuat semacamnya” tidak akan pernah terjawab oleh siapapun. Dalam term Ushul Fikih, tantangan al-Qur’an itu masuk dalam kategori “pembebanan yang tak mungkin tertangani” (taklîf bimâ lâ yuthâq). Telah banyak upaya dilakukan oleh orang-orang kafir, para sastrawan kawakan, itu untuk menyaingi al-Qur’an, seperti dilakukan oleh nabi palsu, Musailimah sang pembual besar, ketika ingin menyaingi surah al-Fil. Namun sayang, semua hanya berakhir dengan kegelian belaka. Simaklah ayat-ayat kitab Musailimah berikut:

Gajah (1) Apakah gajah itu? (2) Dan tahukah kamu apa gajah itu? (3) Gajah memiliki ekor yang panjang (4) Dan kekuatan yang dahsyat...

Menggelikan sekali, bukan?

Sumber :Buletin Sidogiri

 

 
SEARCH
 
MEMBER LOGIN
User
Password
 
   
         
                      Copyright © 2007 SMI Indonesia. All Rights Reserved.