07 Februari 2012 | 14 Rabiul Awwal 1433 H
Home Forum Diskusi Link Download Maklumat Kontak
   
       
 
 
   
   
 
ARTIKEL ARTIKEL
Ust. Idrus Ramli, Kita Melayani yang Berbahasa Indonesia

Literatur akidah terus bertebaran di dunia Islam. Meski tidak patah atau hilang, literatur akidah terus tumbuh dan berganti. Pengarangnya adalah ulama-ulama terkemuka dari berbagai kalangan: Sunni, Syiah, Wahabi, dan yang lain. Mereka seperti hidup di atas papan catur raksasa: bertahan dan menyerang, baik melalui forum perdebatan maupun karya tulis. Ini seperti sisi kehidupan yang tak selesai-selesai, sejak masa ulama terdahulu hingga sekarang. Untuk dapat menonton pertarungan itu, berikut hasil wawancara majalah Maktabatuna Pondok Pesantren Sidogiri dengan tokoh yang terlibat langsung di dalamnya: Ust. Muhammad Idrus Ramli, penulis buku Madzhab Al-Asy’ari: Benarkah Ahlusunnah Wal-Jamaah?

Sejak kapan literatur-literatur akidah, baik yang Ahlusunah atau bukan, mulai berkembang?

Kalau di Indonesia, masuknya literatur-literatur di luar Ahlusunah Waljamaah, seperti yang dijelaskan oleh Hadlratussyekh Kiai Hasyim Asyari, itu sejak 1330 H, mungkin awal abad ke-19 M. Sejak itu, yang mulai banyak masuk ke Indonesia adalah ajaran Wahabi, ajaran Syiah, ajaran Kebatinan, dan lain sebagainya. Dan sebelum masuknya semua faham itu, Indonesia murni Ahlusunah Waljamaah, paduan dari akidah Asyari dan ideologi Syafii. Kemudian, setelah era 70-an ke belakang, produksi kitab di Timur Tengah semakin maju pesat. Akhirnya, masing-masing dari aliran berlomba-lomba untuk menerbitkan masing-masing kitabnya, lalu banyak diekspor ke Indonesia. Sekitar tahun 80-an, kitab-kitab Syiah disebarkan ke Indonesia, pertahunnya hampir mencapai satu kapal.

 

Sebenarnya kriteria kitab yang menyesatkan itu apa saja?

Kriterianya, pokonya kitab yang keluar dari Ahlusunah Waljamaah itu menyesatkan. Kalau yang tidak menyesatkan, ya kitab Ahlusunah Waljamaah. Di luar Ahlusunah Waljamaah itu sudah menyesatkan, termasuk kitab-kitab Wahabi, kitab-kitab Syiah, Muktazilah.... Sedang yang banyak menyebar di negara kita sebenarnya cuma dua: Wahabi dan Syiah. Karena dua aliran ini di-back-up oleh dua negara: Wahabi negara Saudi, Syiah negara Iran. Dan yang mendanai juga negara.

 

Bagaimana cara ulama salaf mengonter literatur yang menyesatkan?

Imam Asyari sendiri rutin mendatangi majelis-majelis Muktazilah, melakukan perdebatan dengan mereka. Begitu juga murid-muridnya. Sampai-sampai Imam Fakhruddin ar-Razi dari Roy, Iran, nekat hijrah ke Heart, Afganistan, untuk memerangi ideologi Mujassimah, sehingga mayoritas masyarakat di sana kembali ke Asyari, di samping dengan mengarang kitab. Ketika muncul kitab di luar Ahlusunah Waljamaah, para ulama kita mengarang kitab untuk mengonter kitab di luar Ahlusunnah itu. Contohnya kitab al-Luma, karya Asyari.

 

Saat ini apa yang harus kita lakukan untuk mengonter literatur-literatur yang menyesatkan itu?

Ya, paling tidak kita memberitakan, memberitahukan tentang literatur-literatur yang menyesatkan itu. Dan kalau bisa, jika ada literatur yang menyesatkan, kita menulis buku untuk mengonter buku menyesatkan itu. Maksudnya bukan literatur Arab, karena yang mengonter dan membantahnya sudah dilakukan oleh ulama kita di Timur Tengah. Kita ini melayani yang berbahasa Indonesia.

 

Jika status kitab atau buku itu berbahaya, kenapa penerbit masih mau menerbitkannya?

Penerbit itu kebanyakan untuk uang, untuk tujuan komersil. Karena ada penerbit punya Syiah, Darul Ihya wat-Turab di Bairut, menerbitkan kitab Ahlusunah semua. Dan kitabnya murah-murah. Dia juga menerbitkan Syiah, tapi ke negara-negara lain. Jadi karena mencari uang saja. Bukan karena ideologi.

 

Untuk yang Indonesia itu seperti apa?

Kalau penerbit Syiah di Indonesia, seperti Mizan dan grupnya. Tapi kadang-kadang Mizan itu juga menerbitkan bukunya NU.

 

Apa tidak ada unsur distorsi?

Kalau distorsi, seperti Wahabi, banyak sekali. Ada sebagian ulama yang mengatakan, distorsi yang dilakukan Wahabi sekarang sudah lebih 300 kitab. Seperti tafsir Shâwî itu ada dua yang dihapus. Kitab Raddu Mukhtâril-آbidîn, kitab al-Mughnî Ibnul-Qudâmah ada yang dibuang juga. Kemudian di Saudi Arabia mencetak kitab Riyâdush-Shâlihîn, banyak yang diubah, apalagi yang di Maktabah Syâmilah.

 

Untuk membedakan yang otentik atau tidak?

Harus mencari cetakan dan terbitan yang lebih lama yang masih otentik, atau manuskripnya. Soal ini kita repot.

 

Kalau dihitung-hitung, mana yang lebih banyak antara karya Ahlusunah dan yang bukan?

Ya, jelas lebih banyak Ahlusunah Waljamaah, apalagi yang menjadi referensi dalam masing-masing kajian, semua kitabnya memakai Ahlusunah Waljamaah. Misalnya orang-orang Wahabi di Arab Saudi, Nahwu yang diajarkan kepada murid-murid mereka memakai kitab Jurûmiyah dan Alfiyah. Dan pengarangnya dari mazhab Asyari. Sedang kitab-kitab yang diajarkan adalah Riyâdush-Shâlihîn, Bulûghul-Marâm, Fathul-Bârî, karangan Imam Suyuthi. Semuanya karangan (ulama) Ahlusunah Waljamaah diajarkan. Sebenarnya Mereka tidak punya pengangan. Walaupun mereka punya karangan, ya nggak laku-lah, nggak payu, nggak dipakek. Kalau kita kan nggak! Pesantren-pesantren tidak ada yang mengajarkan kitab-kitab Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim, apalagi kitab-kitab Wahabi. Kita tidak perlu. Kita sendiri kaya. Wacana pemikiran kita itu sangat kaya. Mereka yang butuh pada kita.

 

Apa berarti selain Ahlusunah Waljamaah tidak punya dasar atau pegangan khusus?

Punya. Mereka punya dasar. Setiap aliran itu punya dasar-dasar yang dibuat mereka sendiri. Cuman dalam wacana keilmuan, ketika mereka mengembangkan ilmu pengetahuan, bagaimanapun mereka harus belajar kepada ulama kita (Ahlusunah Waljamaah). Contohnya sekarang ini, yang ada di tengah-tengah kita adalah Wahabi, yang sama-sama mengklaim Sunni. Wahabi sendiri ideologinya kan berbeda dengan Asyari, tapi di kajian mereka, pasti rujukan utamanya memakai kitab-kitab Asyari. Kajian fokus mereka lebih banyak ke ilmu Hadis. Sedang ilmu Hadis, kita tahu, rata-rata yang mengarang musthalahnya, mengarang syarah-syarahnya, semuanya adalah kalangan Asyari.

 

Untuk masa sekarang, siapa ulama yang pantas dibuat panutan di bidang akidah?

Kalau kemarin yang populer sampai pada Indonesia adalah Syekh Muhammad al-Maliki. Kemudian pengganti setelah beliau itu sampai saat ini adalah Sayid Ahmad. Yang Sayid Muhammad itu sungguh luar biasa. Hampir semua karangannya membela Ahlusunah Waljamaah. Kalau Sayid Ahmad, karya-karyanya masih belum ada. Kan baru mengganti. Kemudian ada lagi, gurunya Syekh Thariq bersamaan dengan Kiai Abdullah Bangkalan. Ada juga yang dari Yordania Syekh Thaif Fauzan, dari Mesir Syekh al-Azhari. Sebenarnya banyak panutan Ahlusunah Waljamaah itu.

 

Kalau di Indonesia siapa?

Yang produktif sekarang, ya Kiai Muhyidin (Abdusshomad), Jember, alumni Sidogiri juga. Kalau di luar sini (Jember, red), saya juga tidak tahu.

 

Kitab dan buku apa yang pantas dibuat dasar pegangan akidah?

Kitab-kitab atau buku yang diajarkan di pesantren, saya kira pantas semua. Cuman akidah semantara ini, yang dipelajari di pesantren adalah penguatan iman, pendalaman ideologi yang kuat. Artinya bukan dalam rangka menyerang ke luar. Tapi kalau sudah kuat pondasinya, bisa membaca kitab-kitab yang menyerang ke Muktazilah dan yang menyerang Syiah. Tapi kalau belum, jangan! Nanti bisa terpengaruh.

 

Seperti apakah contoh kitab atau buku yang dikarang oleh ulama Indonesia, khususnya di bidang akidah?

Di antaranya karangan Syekh Nawawi Banten, karangannya Kiai Hasyim Asyari. Tapi itu yang Mutaakhkhir (modern) semua. Kalau yang klasik, yaitu pada masa-masa perkembangan, masa perdebatan keras antara Sunni dengan luar Sunni, Indonesia belum menututi.

 

Apakah ulama terdahulu sudah pernah menyengketakan status Asyari?

Ya ada. Contohnya tulisan saya itu, yang dirangkum dari berbagai kitab. Kitab-kitab yang membela Asyari, yang paling bagus adalah kitab Tabyînu Kidzbil-Muftarî, itu yang pertama. Kemudian ar-Risâlah al-Asyâ‘irah, karya Imam al-Baihaqi, dan itu ada di Thabaqâtul-Kubrâ, di dalam. Tulisan saya mengikuti itu semua.[]

Hasbullah NF

____________________________________________________________________________________________________________

Muhammad Idrus Ramli

 

Tempat dan tanggal lahir: Jerreng Barat, Gugut, Rambipuji, Jember, 1 Juli 1975 Pendidikan: Pondok Pesantren Nashirul Ulum, SDN Gugut 1 tahun 1986, Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan (1986-2004)

Aktivitas: ketua Lajnah Talif wa an- Nasyr dan sekretaris Lembaga Bahtsul Masail NU Kencong (2008-2013). Pimred Majalah Milenia ASWAJA, NU Kencong (2008-2013). Penulis buku Menguak Kebatilan dan Kebohongan Sekte FK3 dalam Buku Wajah Baru Relasi Suami Isrti, Telaah Kitab Uqud al-Lujayn, bersamaTim Kajian RMI Kab. Pasuruan (2004). Penulis buku Fiqih Kontekstual terbitan Pondok Pesantren Sidogiri (2002). Penulis buku Membongkar Kebohongan Buku Mantan Kiai NU Menggugat Sholawat Dzikir Syirik, karya H. Mahrus Ali, Bersama Tim LBM NU Jember. Penulis buku Madzhab al-Asyari: Benarkah Ahlussunnah Wal-Jamaah? Tanggapan Terhadap Aliran Salafi. Muhaqqiq kitab Fadhâihul-Bâthiniyah karya Abu Hamid al-Ghazali.

 
SEARCH
 
MEMBER LOGIN
User
Password
 
   
         
                      Copyright © 2007 SMI Indonesia. All Rights Reserved.