Dari Bashrah sampai Indonesia
Sejak Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam wafat, tubuh Islam terpetak-petak menjadi beberapa golongan. Setiap golongan sama-sama mempunyai amunisi yang siap ditembakkan kapan saja untuk mempengaruhi hayalan manusia, utamanya yang awam agar menjadi pengikutnya. Fenomena ini sudah terjadi sejak dahulu kala hingga sekarang. Dampaknya, masyarakat awam menjadi bingung. Bingung untuk memilih dan memilah aliran atau golongan apa yang steril dan murni ajaran al-Qur’an dan Hadis. Buntutnya masyarakat banyak terjerumus ke lembah paham-paham sesat yang rentan memanjakan akal dan nafsu itu.
Berangkat dari fenomena di atas, kita pantas memperkokoh akidah serta membetenginya sejak dini dari manuver-manuver sesat dengan cara mengetahui dan mempelajari esensi dan konsep akidah yang benar serta literatur-literatur akidah Islam karya ulama-ulama Ahlusunah wal Jamaah, baik yang klasik atau modern. Mengingat sudah banyak tokoh-tokoh dan cendekiawan ternama yang berselera pada sajian-sajian akidah yang menyesatkan itu.
Konsep Awal Akidah
Sejatinya, konsep akidah sudah sempurna dalam al-Qur’an, Hadis, dan ajaran-ajaran para Sahabat. Hanya saja setelah terjadinya petakan dalam tubuh Islam dan penyimpangan serta pengingkaran terhadap akidah Islam, baik dengan alasan ta’wîl yang gencar dilakukan oleh golongan Muktazilah atau yang lainnya, maka esensi akidah mulai kabur, baik melalui distorsi atau interpolasi. Dari sinilah ulama-ulama Ahlusunah Waljamaah bangkit untuk menjabarkan teori akidah dengan komprehensif demi mengembalikan umat pada ajaran akidah yang sesuai ajaran Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam, seperti dalam kitab al-Fiqh al-Akbâr, karya Imam Hanafi.
Tapi, penjabaran ulama Ahlusunah saat itu masih kurang menggigit, karena tidak dilengkapi dengan nalar filsafat sehingga manuver-manuver aliran sesat terus berkembang dan eksis beroperasi di kancah dunia. Akhirnya, di ujung abad ke-3 Hijriyah atau awal abad ke-4 Hijriyah, lahirlah ulama terkemuka yang menggagas metodologi akidah secara sistematis dan sempurna serta tak terbantahkan oleh selain Ahlusunah. Beliau adalah Imam Abul Hasan al-Asy’ari, seorang ulama peletak dasar Ilmu Tauhid, pakar teolog terbesar, dan pimpinan Ahlusunah Waljamaah saat itu.
Metodologi yang beliau rintis bertujuan untuk menggambarkan keimanan yang benar kepada Allah Subhânahu wata‘âlâ, Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam, dan lain sebagainya, seperti sifat ma’ânî yang dianggap cukup untuk menggambarkan kesempurnaan Allah Subhânahu wata‘âlâ atau empat sifat Rasul yang dianggap cukup untuk menggambarkan kesempurnaan dan kapasitas seorang Rasul.
Di samping tujuan di atas, juga untuk mengonter dan menolak pemikiran-pemikiran di luar Ahlusunah Waljamaah, seperti Muktazilah yang tidak mau pada sifat-sifat yang tujuh dengan alasan tidak mau menetapkan sifat-sifat kepada Allah Subhânahu wata‘âlâ karena takut terjadi Ta’addudul-Qudamâ’, sesuatu yang Qadim itu lebih dari satu. Atau untuk menolak kelompok Mujassimah dengan sifat Mukhâlafatu lil-Hawâdîst, dan lain sebagainya.
Semua model metodologi Imam al-Asy’ari bisa dilihat pada karya-karya beliau, baik yang berisi dasar-dasar akidah atau bantahan terhadap paham atau aliran selain Ahlusunah Waljamaah, seperti paham Inkarnasi, Atheis, Majusi, Musyabbihah, Khawarij, dan Muktazilah. Karya-karya beliau dalam bidang akidah meliputi: al-‘Imad fîr-Ru’yah (kitab yang berisi dalil-dalil bahwa Allah Subhânahu wata‘âlâ bisa dilihat di dunia dan akhirat); Risâlatu Istihsânil-Khaudhi fî ‘Ilmil-Kalâm (kritikan terhadap asumsi golongan Hanabilah yang tidak mau membicarakan sifat-sifat Allah Subhânahu wata‘âlâ, karena dianggap sebagai perbuatan bidah); Maqâlâtul-Islâmiyyîn wa Ikhtilâful-Muslimîn (histori macam-macam aliran serta pandangan-pandangannya); Tafsîrul-Qur’ân war-Radd ‘ala Man Khâlafa al-Bayân min Ahlil-Ifki wal-Buhtân (tanggapan terhadap Tafsir al-Qur’an yang ditulis oleh tokoh-tokoh Muktazilah); Risâlatu Ahlut-Tsaghâr (jawaban terhadap pertanyaan kaum Muslimin yang berasal dari negeri Kaukasia); al-Ibânah ‘an Ushûlid-Dîniyyah (dasar-dasar akidah al-Asy’ari yang sekaligus menjadi bantahan terhadap Muktazilah); Mujarrabatu Maqâlatil-Imâm al-Asy’ari (rangkuman kitab-kitab dan pandangan al-Asy’ari, khususnya di bidang teologi, yang ditulis oleh Imam Abu Bakar bin Furak); al-Luma’ fîr-Radd ‘ala Ahliz-Zaigh wal-Bida’ (kitab terakhir al-Asy’ari dalam teologi yang mengokohkan Mazhabnya); dan sebagainya.
Ulama Mutakallimin dan Karyanya
Metodologi-metodologi Imam al-Asy’ari terus berkembang mengikuti perkembangan arus zaman. Metodologi tersebut terus disaji dan dikembangkan oleh tokoh-tokoh yang sealiran dengan beliau, yaitu dengan metode atau karya masing-masing, baik yang se-negara atau di luar negeri, seperti tokoh-tokoh yang ada di Indonesia. Tokoh dan karya-karyanya antara lain:
Pertama, ulama semasanya, seperti Imam al-Maturidi dan Imam al-Thahawi. Kedua, murid-muridnya, seperti Imam Ibnu Mujahid dengan menghadirkan karya teologinya berupa Kitab al-I’tiqâdât dan kitab Hidâyatul-Mustabshir wa Ma’ûnatul-Mustashîr, Abu Zaid al-Mawardi, Imam Ibn Khafif adh-Dhabbi, al-Hafizh Abu Bakar al-Ismaili, Abu Hasan al-Bahili, Imam Bundar asy-Syirazi ash-Shufi, Ali bin Mahdi ath-Thabrani dengan karya teologinya Ta’wîlul-Hadîts al-Musykilât fîs-Sifât, Abu Husain bin Sam’un, Abu Sahal ash-Shulluki, dan Abu Bakar al-Qaffal.
Dan ketiga, dikembangkan oleh tokoh-tokoh terkemuka setelahnya dan yang juga berkarya, utamanya di bidang teologi. Tokoh-tokoh tersebut tersebar bukan hanya di satu negara, tapi dari beberapa negara, bahkan sampai ke negara kita, negara Indonesia. Hal ini bisa Anda lihat pada tabel di bawah ini.
Hasbullah NF
