07 Februari 2012 | 14 Rabiul Awwal 1433 H
Home Forum Diskusi Link Download Maklumat Kontak
   
       
 
 
   
   
 
ARTIKEL ARTIKEL
Memori Kertas

"Ilmu kalian, ada di dalam buku. Ilmu kami ada di dalam hati" Saya mendapatkan slogan ini justru dari penulis Belanda, John  Pedersen, dalam bukunya The Arabic Book yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Fajar Intelektualisme Islam. Sebelum itu, slogan mirip yang akrab di telinga saya adalah al-ilmu fish-shudûr la fis-suthûr. Ilmu berada di hati, bukan di lembaran-lembaran buku.

Kalimat yang dikutip Pedersen itu, konon, adalah sindiran orang-orang Arab terhadap bangsa Eropa. Bangsa Arab memang memiliki tradisi hafalan yang luar biasa, bahkan sejak masa Arab kuno. Otak mereka adalah buku mereka. Otak mereka kalender sejarah sekaligus menjadi antologi dari sajak-sajak para pujangga. Begitu, kata beberapa sejarawan. Barangkali, karena pada masa Jahiliyah, bangsa Arab belum akrab dengan tradisi kertas. Mereka bangsa terbelakang yang buta huruf. Maka, mereka memilih cara tradisional untuk menyimpan data-data, tak beralih dari kepala mereka.
Dan, itu berlanjut hingga masa-masa fajar keilmuan mekar. Tidak hanya di Arab teritorial, tapi juga di “Arab-Arab baru” dari Amudaria hingga Andalusia.
Ratusan ribu atau mungkin jutaan Hadis dihafal Imam al-Bukhari, Imam Muslim, Imam Ahmad, dan ulama-ulama lain. Tiga puluh ribu lembar sejarah dan tiga puluh ribu lembar tafsir, didiktekan oleh ath-Thabari kepada murid-muridnya. Ratusan ribu nama rawi, dengan segenap latar belakang dan kredibilitasnya diingat oleh para pemerhati sanad.
Tentu, itu cerita dari masa lampau di Abad Pertengahan, bukan sekarang. Sepertinya di luar nalar, tapi itu benar-benar terjadi, hingga ajaran-ajaran bisa kita terima dengan utuh sampai belasan abad ini.
Keluarbiasaan hafalan, pada dasarnya, bukan fenomena kekuatan memori otak belaka. Tapi, fenomena yang kompleks dan saling berkaitan: antara totalitas, moralitas, dan spiritualitas. Otak adalah jaringnya. Totalitas adalah perahunya. Moral-spiritual adalah motivasinya. Keyakinan akan kesucian sebuah teks, kemuliaan sebuah penegasan, dan anggapan penting terhadap sebuah informasi adalah modal paling pokok bagi mereka saat itu untuk menjejal-jejal memori dan bersusah-susah melestarikan ingatan.
Sebagai sebuah organ jasmani, otak masa lampau dan otak masa kini barangkali tak jauh beda. Yang membedakan adalah sisi kesungguhan dan keyakinannya terhadap guna sebuah informasi. Ingatan orang terhadap sesuatu yang dianggapnya penting benar-benar lebih kuat daripada terhadap hal-hal yang dianggapnya biasa-biasa. Anggapan penting itu membuat orang bekerja keras untuk selalu melekatkannya.
Konon, al-Mutanabbi, pujangga kesohor dari Kufah itu, justru mendapatkan ilmu tata bahasa dan sastra dari trik curi baca. Saat itu kertas dan buku masih sangat mahal. Ia datang ke pasar buku, berpura-pura menawar. Di sela-sela itu ia membaca. Setiap hari, setiap waktu, hingga ia pun muncul sebagai sastrawan yang senantiasa disebut-sebut dalam khazanah sastra Arab, hingga kini.
Begitu pula di Mesir, sekitar Abad Ke-3 Hijriah. Di sebuah majelis ilmiah, sekitar tiga puluh ulama menegaskan, “Tidak ada yang kami inginkan di dunia ini kecuali membaca kitab sejarah (at-Târikh al-Kabîr) karya Muhammad bin Ismail (al-Bukhari).”
Sebuah buku menjadi begitu berharga. Dan, ilmu pengetahuan begitu bernilai. Kemauan untuk menghafal pun begitu kuat. Bahkan, tak jadi surut oleh produksi kertas yang melimpah beberapa saat setelah Dinasti Abbasiyah berdiri. Maka, kolaborasi hafalan dan tulisan menjadi erat. Masyhurlah apa yang disebut imlâ’ . Majelis-majelis ilmu menerapkan dikte; profesi penyalin naskah bermunculan; dan perpustakaan menjamur di mana-mana.
Orang-orang Arab pun mulai bilang melalui sajak-sajak, “Ilmu adalah buruan, dan tulisan adalah talinya # Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat!”
Tulisan mulai penting, menjadi pengikat hafalan. Informasi yang dibawa oleh kertas lebih bertahan, lebih praktis, lebih mudah dirawat, dan tak membebani memori. Maka, bangsa Arab mulai berkata, “Tulisan diam bertahan, dan hafalan lari menghilang!”
Setelah itu, hafalan berganti catatan. Mendengar berubah membaca. Transmisi ilmu tak harus berhadapan. Hingga datanglah generasi kita saat ini: generasi yang kehilangan semuanya![]

Ahmad Dairobi
 
 
SEARCH
 
MEMBER LOGIN
User
Password
 
   
         
                      Copyright © 2007 SMI Indonesia. All Rights Reserved.