Pembaharuan
Sekurang-kurangnya sejak Barat menemukan jatidirinya yang baru, dalam rentang waktu yang tak terlalu renggang, dunia Islam mulai kehilangan kepercayaan dirinya. Pada abad 19, beberapa pemikir Muslim mulai mencoba untuk mengadopsi sejumlah anasir yang membangun Barat modern.
Tentu saja kecenderungan ini bukan tanpa alasan. Bagaimanapun, akan selalu lebih mudah bagi siapapun untuk melakukan sesuatu, jika ia punya alasan yang riil untuk itu; ada model ideal untuk diadopsi. Dan, fenomena kemajuan Barat saat itu, tentu saja merupakan gambaran menarik yang sangat mungkin bisa memberdayakan.
Maka bolehlah kita katakan bahwa gerakan pembaharuan Islam abad 19, lebih sebagai respon terhadap tantangan-tantangan yang dihasilkan melalui kontak dengan Barat. Tapi secara keseluruhan, kita membaca gairah baru ini lebih seperti gado-gado—dalam arti bahwa ia tidak monoton, dan cukup kompleks.
Pembaharuan Islam tampak kental dan terwarnai oleh figur-figur pembaharu itu sendiri—yang eksklusif. Barangkali itu sebabnya dalam membaca jejak langkah pembaharuan Islam, kita seperti dihadapkan pada sebuah paradoks: antara pembaharuan model Muhammad bin Abdul Wahhab dan Musthafa Kemal Attaturk, misalnya.
Sepintas, gerakan-gerakan tersebut lebih menggambarkan letupan-letupan aksi sporadis yang dipicu oleh kepanikan, daripada kesadaran massif yang tumbuh dan menggerakkan, paling tidak seperti fenomena Komunisme pada masa lalu, atau Kapitalisme masa kini.
Akan tetapi tentu saya tidak hendak mengatakan bahwa model pembaharuan apapun, jika bisa fokus, kontinu, massif, dan tampak gemilang, bisa kita iakan tanpa catatan. Sebab kecenderungan-kecenderungan partai, berkenaan dengan konsep-konsep pembaharuan mereka, tetaplah berafiliasi pada Islam—sedang Islam punya artikulasinya sendiri mengenai pembaharuan.
Dalam hal ini, jika merujuk pada Hadis, kita akan mendapati penjelasan bahwa, pembaharuan dalam Islam digambarkan secara berbeda dengan tradisi revolusi di dunia Barat. Artinya, jika kita meyakini bahwa Islam adalah “sesuatu” yang berharga dan final, maka bolehlah ia kita umpamakan seperti situs sejarah yang penting.
Maka, pemberangusan ‘aksesoris’ oleh Wahabisme lebih tampak sebagai langkah ekstrem—yang kadang juga membakar akar. Sedang visi pembaharuan Attaturk seperti hendak menyulap Madinah menjadi Manhattan. Keduanya akan membikin kita kehilangan Islam kita yang sesungguhnya.**