07 Februari 2012 | 14 Rabiul Awwal 1433 H
Home Forum Diskusi Link Download Maklumat Kontak
   
       
 
 
   
   
 
ARTIKEL ARTIKEL
Sejarah Kelam Zionisme

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (QS Al-Baqarah [2]: 120)


HARI Senin (6/10/2009), Ketua Organisasi Ulama se-Dunia, Syekh Yusuf Qardhawi di Kairo, menyerukan kepada umat Islam seluruh dunia, untuk menjadikan hari Jum’at sebagai hari kemarahan terhadap Israel, dan memberi dukungan terhadap Al Aqsa yang terancam Zionis Israel.

Pada tahun 2003 hal yang sama juga pernah terjadi. Yaitu ketika Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Konferensi Islam (KTT OKI) ke-10 digelar di Kuala Lumpur, Malaysia pada 16 Oktober. Dalam acara yang dihadiri dari perwakilan 57 negera Islam itu, Perdana Mentri Malaysia, Mahathir Mohammad mengutuk keras serangan Israel yang terjadi pada 7 Oktober 2003.    

 Tak mengherankan jika belakang hari, Mahathir Mohammad mendapatkan serangan dari pendukung Zionis Israel. Dari isi pidato Mahathir Mohammad yang sangat panas dan memojokkan Zionis Israel, Duta Besar Israel di Singapura, Itzak Shoham menuduh Mahathir anti-Semitik. Serangan balik juga dilontarkan oleh PM (Perdana Mentri) Australia, John Howard yang menyatakan bahwa ungkapan Mahathir berbahaya dan menjijikkan.

Begitulah adanya perdebatan-perdebatan yang tak pernah lega untuk mendapatkan hasil yang memuaskan. Kata-kata geram, benci, muak dan lain sebagainya tak pernah kering dilontarkan kepada Zionis Israel yang suka bikin ulah dan memang sepatutnya mendapatkan kutukan dan kecaman. Keberadaannya di tanah Palestina hanya akan berdampak pada gugurnya pahlawan-pahlawan baru Islam.

Jika dilihat dari sisi sejarah masa lalu, keberadaan Yahudi memang dikenal sebagai biang keonaran, namun kebejatan yang dilakukan Zionis Israel –sebagai tangan panjang dari Yahudi—saat ini lebih parah keberadaannya dari pada Yahudi di masa lalu. Dari pernyataan ini kemudian muncul persoalan –yang juga ditulis oleh Adian Husaini dalam bukunya: Tinjauan Historis Konflik Yahudi-Kristen-Islam—tentang pemahaman surat Al-Baqarah [2]: 120. Siapakah yang dimaksud dengan al-yahud dalam ayat tersebut? Apakah semua orang Yahudi jahat, seperti Yahudi Zionis? Bagaimana dengan Yahudi-Yahudi yang aktif menentang Zionis Israel? Jika semua Yahudi dimaksudkan dalam katagori Al-Baqarah [5]: 120, bagaimana cara menentukan, siapa yang disebut Yahudi?

 

Sejarah Kaum Yahudi 

Sebelum mengkaji terlebih dahulu tentang Zionis Israel, maka sangat penting untuk mengkaitkan sejarah Yahudi di masa-masa awal perkembangannya yang tak lepas dari peran sejarah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalâm yang disebut sebagai imam agama moneistik (Tauhid), yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam.

Dalam cacatan sejarah dinyatakan bahwa Nabi Ibrahim ‘Alaihissalâm dikaruniai anak dari pasangan Sarah yang bernama Ishaq. Kemudian Nabi Ishaq ‘Alaihissalâm dikaruniai anak bernama Ya’qub, yang bergelar Israel. Nabi Ya’qub ‘Alaihissalâm mempunyai dua isteri dan 12 anak. Dari isteri pertama lahir dua anak (nabi Yusuf ‘Alaihissalâm dan Benyamin), sedangkan dari isteri kedua lahir sepuluh orang anak.

Dari keturuan Nabi Ya’qub itu, lahir pula Nabi Dawud ‘Alaihissalâm yang menjadi raja kerajaan Judea Samaria. Kemudian digantikan oleh anaknya, Nabi Sulaiman ‘Alaihissalâm. Nabi Sulaiman ‘Alaihissalâm, membawa bangsa Yahudi ke zaman keemasan. Yerussalem dibangun pada dataran di atas bukit Zion dan menjadi pusat kota serta didirikan tempat ibadah yang megah. Orang Arab menyebutnya Haikal Sulaiman (Kuil Sulaiman, Solomon Temple), Masjid Al-Aqsa, dan Bait Al-Maqdis.

Dengan demikian Zion (Ing.: Zion;Lat.: Sion;Ibrani: Tyson= bukit;Bukit Suci Yerussalem,Yerussalem surgawai, teokrasi Yahudi) tak lain adalah nama sebuah bukit di kota Yerussalem. Zion menjadi tempat kedudukan ibadat dan pemerintahan Yahudi. NamaZion juga sering dihubungkan dengan orang Israel sendiri. Setelah dibuang dari Tanah Suci, bagi orang Israel Zion berarti tanah air mereka, dengan Yerussalem, Kenisah, dan segala kemuliaan Palestina kuno.

Namun akibat kesombongan kaum Yahudi (Israel), Allah Subhânahu wata‘âlâ murka dan mengadzab mereka. Akhirnya kerajaan mereka hancur dan mereka mengalami pengusiran demi pengusiran, penyiksaan serta perbudakan. Kesengsaraan kaum Yahudi terus berlanjut, terlebih pada masa Nazi Hitler, kaum Yahudi Jerman mengalami etnis cleansing. Setelah melebarnya waktu yang amat panjang, muncul dikemudian hari ideologi baru yang dari tubuh umat Yahudi yang dikenal dengan Zionis.

 

Lahirnya Zionisme

Dalam Ensiklopedi Indonesia, Zionisme adalahnama yang diberikan kepada gerakan kaum Yahudi yang hendak mengadakan kembali negara mereka sendiri. Istilah ini mula-mula dipakai oleh Nathan Birnbaum, nama samaran Matthias Acher (1864-1937), seorang perintis kebudayaan Yahudi. Berkat usaha Theodor Herzl, maka pada tahun 1897 diadakan kongres Zionisme yang pertama.

Sejak itu Zionisme mulai memasuki gelanggang politik. Yang dititikberatkan sekarang ialah corak kebangsaannya, sedangkan organisasi-organisasi Yahudi lainnya hendak mendasarkan kesatuan kaum Yahudi itu pada agama mereka. Pada mulanya para penganutnya tidak tahu dimana mereka hendak membangun negara mereka. Inggris mengusulkan supaya orang-orang Yahudi itu mengadakan koloni mereka di Ugada (1903), tetapi usul ini ditolak oleh kongres Zionisme (1905). Kongres ini memutuskan bahwa kolonisasi kaum Yahudi itu akan diadakan di Palestina dan daerah-daerah sekelilingnya. Sejak meninggalnya Theodor Herzl, pemimpin Zionisme jatuh ke tangan Chaim Weizmann yang kemudian berhasil melobi pemerintah Inggris; hal ini menghasilkan Deklarasi Balfaur (1917) yang menjanjikan suatu negara kebangsaan kepada orang-orang Yahudi. Berkat usaha para pelopor Zionisme, seperti Weizmann, David Ben Gurion, dan lain-lain, dan berkat sokongan Jewish Agency, maka tahun 1948 terlaksanalah angan-angan politik Zionisme itu: Israel diakui kedaulatannya oleh PBB.

Namun, dengan berhasilnya Zionis Israel menjadi satu bangsa yang didaulatkan atas dukungan penuh Amerika, bukan berarti Zionis Israel mendapatkan kecaman dari berbagai pihak, baik eksternal (Islam utamanya) maupun internal. Dalam tubuh Yahudi sendiri terdapat beberapa kelompok yang tidak setuju dengan berdirinya bangsa hasil racikan Herzl ini.

Bahkan, Herzl ditentang oleh para rabbi Yahudi di Amerika dan para ilmuwan Yahudi, termasuk Einstein. Mereka menyatakan ketidaksetujuannya untuk mendirikan sebuah negara Yahudi, dan menolak berimigrasi ke Palestina. Menurut, mereka “Usaha yang dilakukan oleh orang-orang Zionis untuk mendirikan negara Yahudi di Palestina adalah menyalahi janji-janji Messianik dan Yudaisme.”

Alasan mereka menolak Zionisme adalah karena pendirian negara Yahudi di Palestina akan mengakibatkan terjadinya pertikaian dengan penduduk asli yang telah mendiami tempat tersebut selama berabad-abad. Di samping itu, Zionisme akan membangkitkan kecurigaan terhadap orang-orang Yahudi yang saat itu tersebar di seluruh dunia. Mereka akan dituduh mempunyai kesetiaan ganda dan kewarganegaraan rangkap.

Dari sini kita tahu bahwa tidak semua Yahudi itu Zionis, tidak semua Yahudi itu penjahat di muka bumi ini, namun bagaimanapun juga Zionis adalah Yahudi yang layak dikecam dan dikucilkan atas idiologinya yang usang. Barang kali ada benarnya dengan apa yang pernah ditulis oleh Deny Suito bahwa “Mengindetikkan semua orang Yahudi dengan Zionisme adalah sebuah kesalahan. Sama salahnya mengidentikkan umat Islam dengan teroris, karena segelintir pelaku teror bom yang mengatasnamakan agama. Seharusnya umat Islam membenci ideologi rasis zionis dan pemeluk serta pendukungnya. Umat Islam tidak boleh mengibarkan anti-semistisme. Wallahu ‘alam**                                                                         

 

Referensi:

Shadily, Hasan. 1992. Ensiklopedi Indonesia. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve.

Husaini, Adian. 2004. Tinjauan Historis Konflik Yahudi—Kristen—Islam. Jakarta: Gema Insani.

 

 
SEARCH
 
MEMBER LOGIN
User
Password
 
   
         
                      Copyright © 2007 SMI Indonesia. All Rights Reserved.