07 Februari 2012 | 14 Rabiul Awwal 1433 H
Home Forum Diskusi Link Download Maklumat Kontak
   
       
 
 
   
   
 
ARTIKEL ARTIKEL
Stop Marah

PAda dasarnya, tabiat manusia yang beragam: keras dan tenang, cepat dan lambat, bersih dan kotor, berhubungan erat dengan keteguhan dan kesabarannya saat berinteraksi dengan orang lain. Orang yang memiliki keteguhan iman akan menyusuri lorong-lorong hati orang lain dengan respons positif; pemaaf, tenang, dan lapang dada. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki keteguhan iman akan selalu memaksa orang lain untuk tunduk di bawah amarahnya.

Meluapkan kemarahan, apalagi secara berlebihan, merupakan salah satu ekspresi memanjakan ego yang cenderung bersifat negatif, atau yang dalam al-Qur’an sering disebut “nafsu amarah”. Karenanya, sangatlah besar pahala orang yang dijanjikan oleh Allah Subhânahu wata‘ala sebagai orang yang mampu menahan amarahnya.

Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasalllam memberi penjelasan dalam Hadisnya, “Barangsiapa yang mampu menahan amarahnya padahal dia mampu meluapkannya, maka Allah menyeru pada Hari Kiamat dari atas halayak mahluk, sampai disuruh memilih bidadari mana yang mereka mau” (HR. Ahmad).

Lebih dari itu, orang sedemikian disebut sebagai muttaqîn yang disenangi oleh Allah Subhânahu wata‘ala. “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu, dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa; yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan emosinya, dan memaafkan (kesalahan) orang lain, Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS. Ali Imran [03]:133-134 )

Dalam ayat lain, Allah Subhânahu wata‘ala memuji hamba-Nya yang mampu menahan emosinya, “Dan bagi orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan yang keji, dan apabila mereka emosi, ia bisa memberi maaf, bagi mereka kenikmatan yang kekal di sisi Allah.” (QS. Asy-Syura [42]: 37).

Namun demikian, menahan marah tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, sebab marah merupakan hembusan angin setan. Dalam sebuah Hadis Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasalllam bersabda, “Marah itu dari setan.” (HR. Abu Dawud).

Berkenaan dengan hal ini, ada beberapa tips yang diajarkan oleh Rasul Shallallâhu ‘alaihi wasalllam untuk dapat meredam marah:

 

1. Membaca Ta’awudz

Al-Imam al-Bukhari dan Muslim–rahimahullâh–meriwayatkan Hadis dari Sulaiman bin Surad Radhiyallâhu ‘anhu: “Ada dua orang saling mencela di sisi Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasalllam, dan kami sedang duduk di samping Nabi. Salah satu dari keduanya mencela lawannya dengan penuh kemarahan, sampai wajahnya memerah. Maka Nabi  Shallallâhu ‘alaihi wasalllam bersabda: Sesungguhnya aku akan ajarkan suatu kalimat yang kalau diucapkan akan hilang apa yang ada padanya. Yaitu sekiranya dia mengucapkan: A’ûdzubillâhi minasy-syaithânir-rajîm. Maka mereka berkata kepada yang marah tadi: Tidakkah kalian dengar apa yang disabdakan Nabi? Dia menjawab: Aku ini bukan orang gila.”

 

2. Mengubah Posisi

Al-Imam Ahmad dan Abu Dawud–rahimahullâh–meriwayatkan Hadis dari Abu Dzar Radhiyallâhu ‘anhu bahwa Nabi  bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri, maka duduklah, jika belum hilang, maka berbaringlah.”

Hal ini karena marah dalam keadaan berdiri lebih besar kemungkinannya melakukan kejelekan dan kerusakan daripada dalam keadaan duduk. Sedangkan berbaring lebih dapat meredam amarah daripada duduk dan berdiri.

 

3. Tidak Berbicara

Setiap orang ingin puas dalam setiap hal dan urusan, termasuk ketika marah. Maka ketika kita sedang jengkel, sepertinya hanya dengan marah dan melontarkan omongan sepuasnya baru terasa lega. Padahal jika nafsu ini dituruti, maka akan terus bertambah buruk, dan jika telah terbiasa, maka akan menjadi tabiat buruk.

Banyak berbicara dalam keadaan marah tidak bisa terkontrol, sehingga terjatuh pada pembicaraan yang tercela dan membahayakan diri dan orang lain. Karenanya, diam orang akan meredam marah dan menghentikan tabiat-tabiat buruk. Dalam Hadis disebutkan: “Apabila di antara kalian marah, maka diamlah.” Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasalllam mengucapkan tiga kali. (HR. Ahmad).

 

4. Berwudhu

Sesungguhnya marah itu dari setan. Dan setan itu diciptakan dari api, dan api itu bisa diredam dengan air. Demikian juga sifat marah, ia bisa diredam dengan berwudhu. Rasulullah  Shallallâhu ‘alaihi wasalllam bersabda: “Sesungguhnya marah itu dari syetan dan syetan itu dicipta dari api, dan api itu bisa diredam dengan air. Karena itu apabila di antara kalian marah, maka berwudhulah.” (HR. Ahmad).

 

Kesimpulan

Marah memang merupakan ahlak yang sangat tercela, dan dapat mengakibatkan hal-hal buruk yang tak terkirakan. Karena itulah Rasul e memberi peringatan “Jangan marah!” sampai tiga kali.

Namun perlu dipahami, bahwa marah yang dikecam oleh Rasul Shallallâhu ‘alaihi wasalllam adalah marah yang terkait dengan hal-hal duniawi, sebagaimana pernyataan yang disampaikan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul-Bârî. Sedangkan marah dalam masalah agama dan hak-hak Allah Subhânahu wata‘âlâ itu tergolong terpuji, dan bahkan wajib.

Rasul Shallallâhu ‘alaihi wasalllam banyak mencontohkan marah yang terpuji ini. Salah satunya dalam Hadis disebutkan: Abdullah bin Umar berkata: Suatu hari aku dan Rasul Shallallâhu ‘alaihi wasalllam hijrah dan bertemu dengan suatu kaum, maka kami mendengar dua orang yang bertikai dan mempertanyakan suatu ayat, kemudian Rasul Shallallâhu ‘alaihi wasalllam keluar dengan wajah penuh kemarahan, sambil bersabda: Sesungguhnya kecelakaan bagi umat sebelum kamu adalah karena perselisihan mereka tentang ayat-ayat Kitab Suci, mempertanyakan kebenarannya, kandungan isi dan lainnya” (HR. Muslim).

Alhasil, janganlah kita marah untuk sekadar kesal. Belajarlah dari sebatang korek api yang sederhana. Korek api mempunyai kepala, tidak punya otak. Oleh karena itu setiap gesekan kecil, sang korek api langsung terbakar. Kita mempunyai kepala, tetapi kita juga punya otak. Kita tidak perlu kebakaran jenggot hanya karena gesekan kecil.[*] 

 
SEARCH
 
MEMBER LOGIN
User
Password
 
   
         
                      Copyright © 2007 SMI Indonesia. All Rights Reserved.