Ibnu Atha’illah As-Sakandari Cahaya dari Langit Alexandria
Sufi dari Alexandria
SUATU ketika, al-Fakih Aminuddin al-Asmar pergi kepada Abul Abbas al-Mursi, seorang mursyid Tarekat asy-Syadzali. Setelah sampai di sana, ia melihat Abul Abbas sedang bersama seorang pemuda yang duduk di sampingnya. Tak berselang lama pemuda itu pergi. Melihat kedatangan al-Fakih, al-Mursi pun mengajaknya duduk dan memulai pembicaraan, “Aku kagum kepada pemuda itu, setelah fulan dan fulan meninggalkan tarekat, ternyata dia datang untuk belajar tarekat. Sungguh dia tidak akan mati kecuali telah menjadi orang yang menyeru di jalan Allah.” Ucap al-Mursi kepada al-Fakih Aminuddin al-Asmar.
Apa yang dikatakan al-Mursi kepada al-Asmar tentang seorang pemuda itu akhirnya menjadi kenyataan. Sepeninggal al-Mursi tahun 682 H, pemuda yang dari awal telah diprediksikan akan menjadi orang besar itu ternyata menjadi salah seorang ulama terkemuka. Pemuda itu menggantikan al-Mursi dalam meneruskan ajaran tarekat asy-Syadzali. Ia adalah orang pertama yang menghimpun ajaran-ajaran, pesan-pesan, dan biografi dua tokoh tarekat asy-Syadzali yang merupakan pendahulu sekaligus gurunya. Sehingga khazanah tarekat itu tetap terjaga sampai saat ini.
Pemuda itu adalah Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari, seorang ulama dan tokoh sufi abad ke-7 H. Beliau merupakan tokoh tarekat yang terkenal di kota tempat bersemayam ‘The Great Pyramid of Giza’ Kairo Mesir.
Nama lengkap beliau adalah Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim bin Abdurrahman bin Abdullah bin Ahmad bin ‘Isa bin al-Husaini bin Atha’illah al-Jadzami al-Maliki al-Iskandari. Beliau memiliki julukan Abu fadhal dan bergelar Tajud-din yang berarti mahkota agama. Beliau lahir pada 648 H/ 1250 M di kota Iskandariah atau disebut juga Alexandria, Mesir. Menurut sejarah, kota ini pertama kali didirikan oleh raja Iskandar Zulkarnaen (Alexander The Great) pada tahun 332 SM. Iskandariah pernah menjadi Ibu kota Mesir hampir selama 1000 tahun. Hal ini berlanjut sehingga penaklukan Islam atas Mesir pada tahun 21 H.
Masa Kecil
Sedari kecil, Ibnu Athai’illah dikenal gemar belajar literatur-literatur Islam. Beliau menimba ilmu dari satu guru ke guru yang lain ketika berada di Mesir. Ia lahir di tengah-tengah lingkungan keluarga bangsawan penganut mazhab Maliki. Dari awal pertumbuhannya, ia memang terkenal sangat cerdas melebihi teman-teman sejawatnya. Kecerdasan yang ia miliki tidak ia sia-siakan. Ia banyak menggunakan waktunya untuk menimba ilmu agama. Ketika beranjak dewasa, ia telah menguasai beberapa disiplin ilmu, seperti nahwu, tafsir, usul fikih, fikih dan Hadis.
Meskipun umur beliau masih relatif muda, Ibnu Atha’illah sudah terkenal sebagai pakar fikih mazhab Maliki, sehingga beliau menjadi seorang ulama ahli fikih yang tersohor. Sebagian pandangan beliau tentang fikih ialah “bahwa di luar hukum syariat tak ada yang perlu dicari.” Pandangan ini menjadi pegangan teguh beliau sehingga menyebabkan pendapat beliau sering bertolak belakang dengan para sufi saat itu. Di awal-awal, beliau bersikap menentang terhadap tarekat-tarekat sufi yang ramai pada waktu itu, termasuk tarekat asy-Syadzaliyah yang mempunyai akar kuat di Iskandaria. Beliau sering berdebat dan beradu argumen dengan beberapa murid syekh Abul Abbas al-Mursi yang menjadi guru besar tarekat Syadzaliyah saat itu.
Dari Benci Menjadi Cinta
Munculnya tarekat asy-Syadzaliyah turut meramaikan gerakan sufisme pada abad ke-7 H. Kendatipun sebelumnya telah banyak lahir aliran tarekat seperti al-Qadiriyah dan Rifa’iyah, namun aliran tarekat yang diploklamirkan oleh Asy-Syekh al-Imam al-Qutubul-Ghaus Abul Hasan Ali asy-Syadzali ini tetap menjadi favorit dan mendapat tempat di hati orang-orang Afrika Selatan kala itu. Tarekat ini banyak digemari oleh kalangan bangsawan.
Tarekat Sadziliyah pertama kali mengakar kuat di Tunisia, kemudian Syekh Abu Hasan al-Mursi, murid Asy-Syadzali, menyebarluaskan ajaran sufinya ke arah timur, tepatnya di Iskandaria, Mesir. Di kota itu dibangun majelis-majelis ilmu dan diajarkan ilmu-ilmu tasawuf. Dengan begitu Iskandaria berubah menjadi kota yang memiliki mainstream sufistik.
Ketertarikan Ibnu Atha’illah pada tasawuf berawal ketika ia mencoba mendatangi majlis Abul Abbas al-Mursi. Saat itu al-Mursi mengajarkan para pengikutnya tentang derajat orang-orang yang menempuh jalan Allah Subhânahhu wata‘âlâ, tentang makrifat kepada Allah Subhânahhu wata‘âlâ dan pendekatan diri kepada Allah Subhânahhu wata‘âlâ. Entah mengapa menyimak penjelasan salah seorang murid Asy-Syadzali itu, Ibnu Atha’illah menjadi jatuh hati. Beliau yakin bahwa yang diajarkan al-Mursi merupakan ilmu yang luar biasa; ilmu yang tidak akan keluar kecuali dari orang-orang yang dekat dengan Allah Subhânahhu wata‘âlâ. Ketertarikan Ibnu Atha’illah pada ilmu yang baru baginya ini tidak hanya sampai di situ. Bahkan ketika sampainya di kediaman, ia tidak langsung berkumpul bersama keluarga seperti biasanya. Kali ini beliau mulai senang menyendiri dan bertafakur.
Setelah kedatangan pertama kali ke majlis taklim al-Mursi, Ibnu Atha’illah merasa ketagihan atas petuah-petuah sang guru. Dalam pertemuannya yang kedua ini, beliau memberanikan diri untuk menemui sang guru dan berbicara langsung dengannya. Beliau mulai mengungkapkan keinginannya untuk menjadi salah satu murid al-Mursi. Akhirnya al-Mursi pun menerima Ibnu Atha’illah menjadi salah seorang muridnya.
Seiring perjalanan waktu, Ibnu Atha’illah pun menjadi murid kesayangan al-Mursi. Rupanya al-Mursi sudah melihat bahwa pemuda yang satu ini akan menjadi salah seorang penerus tarekatnya di kemudian hari. Menurut penuturan Ibnu Atha’illah dalam Lathâ’iful-Minan, al-Mursi pernah berpesan kepada Ibnu Atha’illah, “Konsistenlah, maka demi Allah seadainya engkau konsisten, maka engkau benar-benar akan menjadi mufti dalam dua madzhab, yaitu ilmu lahir dan ilmu batin.”
Karya-Karya Beliau
Di samping menjadi guru ketiga tarekat asy-Syadziliyah, Ibnu Athaillah mempunyai nilai lebih dibanding kedua guru tarekat asy-Syadziliyah sebelumnya. Beliau tergolong ulama yang produktif. Terbukti tak kurang dari 20 karya yang beliau hasilkan, meliputi bidang tasawuf, tafsir, Hadis, akidah, nahwu dan ushul fikih. Di antara karya-karyanya ialah Miftâhul-Falâh wa Misbâhul-Arwâh fî Dzikrillâh al-Karîm, al-Fattâhull-Muraqqî ilâl-Qadîr, ‘Unwânut-Taufîq fî Ada’it-Tharîq, al-Qaulul-Mujarrad fil-Ismil-Mufrad (Tanggapan pendapat Ibnu Taimiyah tentang tauhid), al-Hikam. Di samping itu beliu juga sempat menulis biografi napak tilas sufistik Syekh Abul Hasan asy-Syadzali dan Abul Abbas al-Mursiy, yaitu Lathâ’iful-Minan fî Manâqibi Syaikh Abil Abbâs wa Syaikhihî Abil-Hasan.
Wafat Ketika Mengajar
Setelah menempuh perjalan hidup yang panjang, di usia 60 tahun beliau memenuhi panggilan Sang Khaliq, tepatnya pada tahun 709 H/1309 M, ketika beliau mengajar fikih Maliki di Madrasah Manshuriyah, Kairo. Duka itu sangat terasa bagi masyarakat Kairo kala itu, sehingga prosesi pemakaman beliau di penuhi dengan lautan manusia yang ingin memberi penghormatan terakhir kepada tokoh sufi tersebut.
Ilmu beliau terasa bak semilir angin malam yang menyejukkan. Sekalipun raga beliau telah tiada, tapi ilmu beliau tetap berhembus abadi. Hal tersebut bisa dilihat sampai sekarang, dengan banyaknya orang yang mengkaji dan mendalami karya-karya beliau. Sampai saat ini, banyak orang yang menziarahi makam beliau di Qarafa. Sejarah kehidupan beliau ibarat mata air yang memberi kesegaran di tengah-tengah kehidupan yang penuh kegersangan jiwa. Petuah agung beliau merupakan cahaya bagi para pecinta yang rindu akan Sang Pecipta.(*)