07 Februari 2012 | 14 Rabiul Awwal 1433 H
Home Forum Diskusi Link Download Maklumat Kontak
   
       
 
 
   
   
 
ARTIKEL ARTIKEL
Tinggi Rendah

Waja’alnâkum azwâjâ. Semuanya di dunia ini pasti punya dan selalu berpasangan. Takkan ada satu entitas apapun yang akan dibiarkan sendiri oleh-Nya. Perindividu dari setiap pasangan memiliki jalur dan rel tersendiri agar tercipta yang namanya kesinambungan dan simbiosis agar hidup bergulir dengan damai dan dinamis.

Perindividu dari setiap pasangan harus memegang prinsip, aturan, garis, yang tak boleh dilewati dengan cara dan alasan apapun. Karena aturan tersebut adalah kewajiban dari satu pihak dan hak dari pihak yang lain. Seperti, matahari harus terus berputar untuk memberikan kesempatan kepada bulan menyinari bumi. ‘Atas’ harus tetap berada di atas agar ‘bawah’ tetap berada di bawah, ‘sulit’ harus tetap berkelindan dengan sifatnya yang membuat pening kepala agar ‘mudah’ tetap menjadi kesenangan dan akan terus dicari manusia.

Dapat dibayangkan bila “sedih” enggan berbagi dengan “suka”. “Sedih” merasa lebih berhak mendapatkan ruang dalam hati manusia, karena hanya dengan dirinya manusia dapat mendapatkan hakikat keberadaan dirinya di muka bumi ini. Di bumi tak terdengar lagi gelak tawa, tak ada lagi suara riang anak-anak kecil yang bermain dengan temannya. Ataupun sebaliknya. Kecerian dan keriangan menjadi-jadi, tak ada kesedihan sama sekali, maka bumi akan berubah menjadi rumah sakit jiwa dengan penghuni sepuluh juta jiwa lebih.

Sedih ada agar kita bisa merasakan betapa indahnya riang dan kecerian akan lebih terasa dengan dengan adanya kesedihan. Begitupun sebaliknya. Kalau tak ada sedih mungkin kita tak akan pernah mengenal riang, kalau tak ada kurus mungkin kita tak akan pernah mengenal gemuk, kalau tak ada atas mungkin kita tak kenal bawah, kalau tak ada jelek kita tak akan kenal bagus, dan kalau tak ada mati mungkin kita tak tahu betapa berharganya hidup.

Makhluk selain manusia tidak pernah melewati garis “koridor” yang telah ditetapkan Tuhannya. Semuanya berjalan di atas rel yang telah ditetapkan-Nya. Lain halnya dengan satu makhluk yang namanya manusia, kadang kala prinsip dan jargon tertukar dengan prinsip yang seharusnya di pakai oleh pihak yang lain dan enggan menyadari bahwa dirinya telah salah jalur. Itulah manusia!.[]

 
SEARCH
 
MEMBER LOGIN
User
Password
 
   
         
                      Copyright © 2007 SMI Indonesia. All Rights Reserved.