Menelisik Militan Taliban, Teroris ataukah Mujahidin?
Beberapa tahun yang lalu sekitar tahun 2001 Afghanistan yang dikuasai oleh militan Taliban luluh lantak dibombardir oleh rudal-rudal Amerika. Kota Kabul kembali menjadi ajang pertempuran sengit. Sebelumnya, Kabul menjadi perebutan antar beberapa mujahidin setelah runtuhnya rezim Soviet.
Dengan alasan membasmi teroris, Amerika Serikat dengan persenjataan berat lengkap meneror para mujahidin Taliban tanpa melihat bahwa di Kabul masih banyak penduduk sipil yang akan menjadi korban kebiadaban perang. Kabul, Peshawar, dan Kandahar akhirnya bertekuk lutut dibawah kekuasaan Amerika Serikat. Pasca runtuhnya Rezim Taliban, Karzai diangkat sebagi presiden sementara di Afghanistan yang kemudian terpilih kembali dalam pemilu tahun berikutnya.
Kini, Amerika Serikat kembali memburu Taliban. Tapi bukan di Afghanistan, melainkan di Pakistan. Berpuluh-puluh batalyon tentara Amerika berdatangan untuk menghabisi sisa-sisa Taliban yang di duga kuat bersembunyi di kamp-kamp militer sekitar daerah perbatasan Pakistan-Afghanistan.
Munculnya Taliban
Taliban dalam bahasa Arab berarti dua pelajar. Sedangkan dalam literatur bahasa Persia Taliban adalah sebutan bagi orang yang menuntut ilmu agama di sebuah lembaga pendidikan tradisional non formal.
Rata-rata Anggota militan Taliban adalah murni para penuntut imu di madrasah-madrasah tradisional yang tersebar di daerah perbatasan Afganistan-Pakistan (provinsi Baluchistan, Pakistan selatan, Peshawar dan Pakistan utara) yang kebanyakan belum diakui pemerintah. Di madrasah tersebut memang diajarkan konsep jihad yang sebenarnya.
Guru di madarasah tersebut disebut dengan Mullah yang tidak hanya mengurusi urusan agama saja tapi juga berfungsi sebagai Ketua Pengadilan Agama, Menteri, Duta Besar, Gubernur bahkan Panglima Perang.
Kemunculan Taliban tidak dapat diketahui dengan pasti. Tapi kemunculannya yang tiba-tiba berhasil menorehkan sejarah yang tidak akan mudah dilupakan. Dalam waktu yang singkat (dua tahun) setelah kemunculannya di akhir musim panas tahun 1994 Taliban berhasil mnguasai Kabul, tanggal 26 September 1996. Mungkin dengan meruntut kejadian di Afghanistan kita akan bisa memperkirakan munculnya Taliban walaupun tidak pasti.
1989 perang dingin berakhir. Soviet jatuh dan banyak Negara bagian yang memisahkan diri seperti Bosnia, Serbia, Kazakhtan dll. Begitupun di Afghanistan, dengan runtunya rezim Soviet berarti kemerdekaan dalam genggaman. Tapi ternyata yang menjadi presiden pasca perang dingin adalah boneka Moskow yaitu Najibullah.
1992 Najibullah tak sanggup bertahan, Moskow tak lagi menyuntikkan dana, hujan bom terus melanda Kabul. Akhirnya, Kabul berhasil dikuasai 7 fraksi mujahidin (sisa tentara pembebasan Afghanistan dari tangan Soviet) dan Najibullah melarikan diri bersama pengikutnya.
Kemudian diangkatlah Sibghatullah Mujaddidi sebagai kepala pemerintahan selama tiga bulan dengan kesepakatan ketujuh fraksi mujahidin. Lalu Burhanuddin Rabbani yang berasal dari etnik Tajik didukung Ahmad Syaikh Masood diangkat sebagai Presiden selama dua tahun sesuai dengan Peshawar Accord (perjanjian para Mujahidin yang disponsori Pakistan) setelah masa percobaan Mujaddidi berakhir.
Ternyata diangkatnya seorang presiden tak membuat keadaan di Afghanistan menjadi aman. Keadaan semakin buruk, beberapa pimpinan mujahidin enggan mematuhi Burhanuddin, seperti Gulbuddin Hikmatyar yang beretnis Pushtun, karena alasan perbedaan etnik. Konflik antara dua etnik itu semakin memanas. Bentrok senjata tidak dapat dihindari. Lagi-lagi Kabul menjelma menjadi medan perang.
Keadaan di daerah lain juga tidak jauh beda dengan keadaan di Kabul. Perampokan, penjarahan di mana-mana. Afghan Selatan, Kandahar adalah tempat yang paling tidak aman. Pedagang dari Quetta (Pakistan selatan) yang berdagang ke Turkmenistan via Kandahar dan Herat kerap terkena upeti besar.
Disinilah Taliban muncul. Saat keadaan di Afghanistan sudah tidak kondusif, Taliban muncul dengan membawa panji membela kebenaran. Adalah Mullah Umar yang kemudian menjadi pimpinan spiritual Taliban. Ia mendengar dua gadis diperkosa para bandit di sekitar Kandahar. Dia mengumpulkan murid-muridnya lengkap dengan senjata menyerang para bandit tersebut dan berhasil membebaskan kedua gadis. Mayat pimpinan bandit digantung di moncong meriam lapis baja yang ada di wilayah Kandahar.
Taliban mendapat sambutan hangat dari seantero Afghanistan. Dengan semangat membela kebenaran banyak yang bergabung, terutama para Taliban (para pencari illmu) yang merupakan Anggota pokok dari gerakan ini. Kandahar jatuh ke tangan Taliban 5 November 1994, 12.000 orang (akhir Desember 1994). Kemudian Taliban terus merangsek memperlebar kekuasaan dan pada akhirnya, 26 September 1996 Kabul jatuh ke tangan Taliban.
Pemberontak?
Status dari Taliban memang sulit untuk diidentifikasi, karena tidak diketahui secara pasti motif dan latar belakang munculnya gerakan militan ini. Apakah mereka pemberontak ataukah mereka adalah para Mujahidin yang berperang di jalan Allah Subhânahu wata‘âlâ. Pemberontak yang dalam bahasa Arab disebut dengan Bughât adalah sekelompok orang yang mencoba untuk merongrong kekuasaan yang sah. Karena bagaimanapun dan sejelek apapun pemerintahan yang sah haram hukumnya menggulingkan kekuasaan tersebut.
Tapi tidak semua pemberontak yang ada harus diperangi. Ada beberapa kriteria yang menjadi dasar pemberontak wajib diperangi:
1. Mempunyai kekuatan besar dengan pengikut yang banyak baik tertampung dalam kamp-kamp sebagai basis ataupun tidak. Dengan kekuatan tersebut dimungkinkan mereka mampu untuk menggulingkan kekuasaan yang sah. Walaupun kekuatan tersebut tidak memiliki pemimpin tapi berjalan dengan pemahaman dan keyakinan yang sama antar pengikutnya.1
2. Membangkang dari pemerintahan yang sah. Mereka terkonsentrasi di sebuah daerah baik di kamp militer atau tidak.2
3. Mempunyai argumen legitimasi atas pembangkangan mereka. Pemahaman yang menjadi dasar gerakan tersebut bukanlah pemahaman yang sudah jelas kesalahannya tapi masih bisa dimungkinkan benar walaupun secara lahir salah.3
Dari ketiga kriteria di atas sepintas Taliban bisa dikatakan sebagai kelompok pemberontak. Dari data yang ada (yang bertentangan satu dengan yang lain) disebutkan bahwa Taliban dalam dua tahun berhasil menggulingkan kekuasaan yang sah yaitu Negara Afghanistan yang dipimpin oleh Presiden Burhanuddin. Tapi yang perlu diketahui, saat itu kekuasaan Burhanuddin hanya di Kabul saja. Sedangkan daerah-daerah lain adalah kekuasaan pemimpin lokal masing-masing.
Mujahidin?
Saat Taliban berkuasa di Afghanistan, Amerika Serikat yang pertamanya bekerjasama dengan Taliban mulai menabuhkan genderang perang dengan Taliban. Ada sebuah sumber menyatakan bahwa perang tersebut terjadi karena keinginan Amerika dalam masalah migas dari daerah Turkmenistan bertentangan dengan keinginan Taliban.
Sampai akhirnya rezim Taliban runtuh dan anggota pasukan yang masih ada mulai melarikan diri ke gunung-gunung. Dalam kejadian ini apakah Taliban tidak bisa digolongkan sebagai mujahidin?
Sebenarnya kata mujahid adalah bentuk pelaku dari kata jihad. Jihad yang dimaksudkan dalam berbagai literatur Islam adalah berperang melawan kaum kafir. Hukum jihad sendiri adalah fardhu kifâyah kepada orang-orang yang mampu untuk melawan dan memenuhi syarat. Yaitu; Islam, akil baligh, berakal sempurna, laki-laki dan mempunyai kemampuan teknik berperang. Hukum fardhu kifayah ini apabila musuh masih berada jauh dari tempat muslimin.
Namun apabila musuh sudah menyerang dan memasuki kawasan muslimin maka hukumnya berubah menjadi fardhu ain bagi penduduk setempat, wajib bagi semua orang, mampu atau tidak, melawan semampunya.4 Dan bagi selain penduduk tempat tersebut yang berjarak melebihi jarak qashar salat hukumnya tetap fardhu kifayah.
Dulu, di Afghanistan, Amerika berdalih ingin menumpas pemberontak dan teroris di Afghanistan dengan meluluhlantakkan Kabul, Peshawar, Kandahar dan tempat-tempat lain yang diduga sebagai markas Taliban.
Kini, kejadian itu terulang kembali. Sudah lebih empat bulan Amerika berada di Pakistan dan melakukan penyisiran di tempat-tempat yang diduga sebagai tempat kamp konsentrasi Taliban.
Penutup
Dari uraian di atas sulit kiranya bagi kita menentukan status Taliban yang sesungguhnya. Teroris ataukah Mujahidin? Karena kita tidak tahu secara pasti seperti apa dan bagaimana sebenarnya Taliban tersebut. Tapi yang pasti, diplot sebagai pemberontak pun Taliban tetap muslimin. Karena pemberontakan tidak akan menggurkan akidah dan keimanan walaupun haram.
Namun jika kita melihat keaadaan sekarang, tentara kafir Amerika menyerbu ke tempat tinggal para Taliban yang diduga sebagai markas militer. Bukankah jika tentara musuh sudah menyerang dan masuk ke daerah muslimin hukum memerangi mereka adalah wajib dan muslimin yang gugur dianggap sebagai syahid? Wallahu a’lam.
Catatan akhir:
1 Sebagaimana Sayyidina Ali yang memerangi pasukan perang Jamal. Pasukan Jamal tidak mempunyai pemimpin. Atau saat beliau memerangi tentara Shiffin sebelum diangkat seorang pemimpin. Lihat: Muhammad asy-Syarbini al-Khatib, al-Iqnâ’ fî alfâdzi Abi Syuja’,1995, Darr Fikr, Beirut Libanon, hlm.547.
2 Tapi menurut Syaikh Iwadh terkonsentrasi di satu tempat bukanlah syarat mutlak. Jadi walaupun mereka berada di tengah-tengah kita asalkan mereka menunjukkan pembangkangan dan merencanakan makar terhadap pemerintahan yang sah maka mereka adalah pemberontak.
3 Seperti pemahaman pasukan Jamal dan Shiffin yang menyangka bahwa Sayyidina Ali mengetahui para pembunuh Sayyidina Utsman.
4Muhammad asy-Syarbini al-Khotib, al-Iqnâ’ fî alfâdzi Abi Syuja’,1995, Darr Fikr, Beirut Libanon, hlm.558.