07 Februari 2012 | 14 Rabiul Awwal 1433 H
Home Forum Diskusi Link Download Maklumat Kontak
   
       
 
 
   
   
 
ARTIKEL ARTIKEL
Al-Qur’an Puncak yang tak Terhingga

Oleh: Muhyi Lathif *
ANAK
adalah amanah dari Allah Subahânahu wata‘âla  yang harus dijaga dan dididik sebaik mungkin. Disamping mempunyai kewajiban yang harus dipenuhi, seorang anak juga memiliki hak-hak yang harus dilaksanakan oleh orang tuanya. Diantara hak anak adalah mengajarinya membaca al-Qur’an. Selain itu orang tua harus menyiapkannya menjadi generasi qur‘ani yang kelak akan mengibarkan panji-panji Islam.
 

Namun bukan berarti tidak ada jaminan yang dihadiahkan terhadap orang tua yang dengan sungguh-sungguh mengajari anaknya mutiara-mutiara al-Qur’an. Sebagaimana tercermin dalam kisah berikut ini.

Abdullah bin Samurah meriwayatkan, pada suatu ketika seorang lelaki dari pelosok desa mendatangi Nabi Sallallâhu ‘alaihi wasallam dan bertanya, “Apa yang diperoleh orang tua yang mengajari anaknya membaca al-Qur’an?” Rasul pun menjawab, “Pahala Kalamullâh tak ada batasnya.”

Tak lama kemudian datanglah Malaikat Jibril ‘alaihissalâm, Nabi pun menanyakan perihal pertanyaan lelaki tersebut. Namun jawaban Jibril sama dengan jawaban Beliau Sallallâhu ‘alaihi wasallam. Lalu Jibril pun naik ke langit dan menanyakan Izrail ‘alaihissalâm, akan tetapi jawabannya pun sama dengan jawaban Nabi.

Pada akhirnya Malaikat Jibril ‘alaihissalâm mendapat mandat untuk menyampaikan wahyu kepada kekasih-Nya. Jibril pun turun mendatangi Nabi Sallallâhu ‘alaihi wasallam guna menyampaikan salam dari Allah Subahânahu wata‘âla, “Pahala mereka sama dengan orang yang menunaikan Haji dan Umrah sepuluh ribu kali, memerdekakan sepuluh ribu budak dari keturunan Nabi Ismail ‘alaihissalâm , berperang sebanyak sepuluh ribu kali, memberi makan dan baju pada miskin papa yang kelaparan, pahala itu akan tetap bersamanya selama ia dalam kubur, serta dapat menambah berat timbangan amal baiknya, ia juga akan melewati jembatan Shirâtul-Mushtaqîm bak kilat. Selain itu, al-Quran tidak akan meninggalkannya sampai ia memperoleh suatu kekeramatan melebihi apa yang ia inginkan. Wallahu a’lam.


Disadur dari: Khozînatul-Asrâr, Sayyid Muhammad Haqi an-Nazil, Hal. 19-20.

*)Penulis adalah Santri PP. Sidogiri, Asrama L-07

 

 

 
SEARCH
 
MEMBER LOGIN
User
Password
 
   
         
                      Copyright © 2007 SMI Indonesia. All Rights Reserved.